Menikmati Proses

Sebuah perjuangan yang paling melelahkan tanpa kita sadari itu adalah proses loh. Banyak dari kita yang sering melupakan elemen satu ini dalam perjuangan. Jiaah, kayak cerita jaman pahlawan yaa readers. Proses itu ada dalam segala aspek kehidupan kita. Sederhana sih membahas hal ini karena kita semua pasti menjalaninya. Kalau ada yang tidak menjalaninya, barangkali dia pake sihir atau dukun, barangkali doi keturunan pure blood / half blood bukan muggle (red: harry potter story).

Di kampus jaman semester lalu, (kalau inget semester bawaannya baper). Saya dan teman – teman belajar matakuliah perencanaan komunikasi. Kita seringkali melihat papan pengumuman, iklan dan hal yang kita lihat hanya sekejap mata seperti iklan shampoo atau iklan mastin (ekstrak kulit manggis) itu muncul gitu aja. Padahal ada proses yang cukup panjang dan melelahkan untuk bikin beberapa detik yang menggemparkan itu. Ada namanya persiapaan, riset dulu, terus konsep setelah itu ada momen dimaki – maki boss ama klien kalau ada yang ga cocok sama prosedur (ngarang deh). Pokoknya ada prosesnya.

Nah kita nih, hidup juga butuh proses. Pada dasarnya hidup kita juga sebenarnya dalam berproses *edisi sok bijaksana*. Kita punya ending hidup yang namanya akhirat. Di sanalah kita kekal abadi *kata ustad gitu.

So, kita suka lupa momen yang seharusnya kita lewati dengan baik itu proses bukan pada hasil. Kita menikmati proses agar paham makna perjuangan, paham apa yang kita jalani sampai pada akhirnya kita sampai di tujuan kita paham esensi tujuan itu apa. Ibaratnya proses dan tujuan itu kayak pasangan kekasih. Seperti kata pepatah “ Hasil tidak pernah mengkhianati proses”. So sweet kan ?

Apalagi kalau kamu yang bilang ke saya (yang baca langsung keselek biji duren).

Tapi kita sendiri yang suka lupa sama proses yang kita jalani. Ujuk – ujuk sampai tujuan, naik tangga pemenang dan pegang piala juara. Kita lupa sama orang – orang yang bantu kita buat kita naik ke tangga sukses itu. Alias lupa daratan.
Abang sepupu kece saya pernah menasehati saya ketika sarapan indah saat momen liburan ke kampung halaman, di sumatera selatan kota Palembang dia bilang gini “ Mengingat proses itu penting, mengingat masa lalu itu perlu. Karena dengan ingatan itu kamu tidak akan sanggup sombong dan angkuh karena ingat dulunya kamu seperti apa sebelum menjadi yang sekarang,” Saya langsung diem, berhenti ngunyah nasi goreng enak buatan istri doi. Buka smartphone langsung update tumblr, bikin kata – kata puitis.

Seperti yang saya pernah tulisan di postingan sebelum – sebelumnya (baca berkali-kali). Saya bilang kalau sukses kita itu adalah himpunan energi dari orang – orang kepada kita. Kita itu lahir ga ada apa – apanya loh, dikasih modal sama Allah tubuh yang lengkap dan fresh kemudian tumbuh jadi gadis cantik atau lelaki tampan berkat tangan – tangan mulia, yakni orangtua kita. Apa yang kita dapatkan adalah titipan, sama halnya dengan apa yang kita miliki sekarang (termasuk sukses). Sebenarnya yang sukses itu juga orang – orang di sekeliling kita. So, kalau kita lupa sama hal itu kita sudah durhaka dengan keadaan (*tempel sticky note ke jidat ini catatan penting).

Menikmati proses itu lebih menyenangkan karena sukses itu hanya terjadi dalam satu kejap saja. Kayak kata salah satu bapak founder twitter Bill Stone. Keringat, perasaan, daya juang itu menjadi saksi himpunan – himpunan kekuatan yang kita kerahkan untuk hasil yang membuat kita bilang, huff akhirnyaa .. atau Yes, I can do it bahkan sebaliknya, you’re failed. (Baca juga : Gagal ! Try Again !)

Hmm, begitulah sedikit cuap – cuap ala – ala bijak saya hari ini.
Semoga bermanfaat dan menginspirasi 

------ 
Note :
#ProjectBaru
Saya sedang mencoba melakukan improvisasi gaya penulisan saya untuk beberapa tulisan kedepan dan juga dalam melatih kemampuan saya dalam menulis untuk proyek dua buku baru saya tahun ini. Dalam nuansa yang lebih rileks dan fun.
Apabila tulisan diatas tidak cocok dengan kepribadian saya bisa hubungi rumah bersalin terdekat #eh

No comments:

Silahkan saran dan kritiknya ...

Powered by Blogger.