GALAU PASCA KAMPUS


Hello, judul ini sebenarnya saya dapat dari sebuah program project kak Iqbal Hariadi di Soundcloud ketjehnya. Keren deh buat menjelaskan situasi saat ini. Seperti biasa kejadian kayak gini sebenarnya banyak dialami sama temen – temen yang sudah kelar kuliahnya.  

Mau kemana ? Ngapain abis ini ? Kok aku ga keren kayak mereka ya ?
Semuanya diri sendiri yang bisa jawab. Jujur nin, saya sendiri cukup lama berkutat dengan pertanyaan itu. Di sela – sela ngerjain skripsi, hal yang ditanyakan itu menjadi sesuatu yang lebih pressure ketimbang corat coret dari dospem akan skripsi kita, atau sibuknya #perjuanganskripsi. Menurut saya lebih berat bertanya akan pertanyaan diatas. Saya lebih takut ditanyaain, “mel habis ini kamu ngapain ?” ketimbang “skripsi kamu gimana kabar?” haha, sama aja sih bebannya tergantung yang nanya haha. 

Tadi malam, saya ga sengaja bisa berkontak ria sama temen jaman SMA dulu yang sekarang sedang kuliah di luar kota. Biasa deh namanya reunian, nanyain kabar setelah itu kegiatan, dan kesibukan. And then dari segala macem capture yang doi upload di medsosnya, saya jadiin pertanyaan balik ke doi. Dia jadi cerita kalau apa yang ia rekam di medsosnya ga sengaja dia tekuni, dan doi ga yakin yang dia kerjain sekarang bakal bisa jadi sesuatu hal “berguna” di masa yang akan datang. Doi itu akademis banget waktu SMA. Ikut olimpiade, lomba – lomba, pelatihan, lalu doi terusin bidang itu buat ngambil bidang perkuliahan yang linier banget sama jurusan doi waktu SMA dulu. Saya pribadi awalnya yakin itu jadi passion dia, tapi pas saya nanyain ulang. Ternyata ga seperti yang saya duga, ternyata ada sebuah kedilemaan yang terjadi di pikirannya. Saya ga tahu persis sebabnya, mungkin aja dia menemukan sesuatu yang lebih asik atau bisa jadi doi masih belum yakin bisa menguasai bidang yang dia tekuni sekarang, sekarang dia malah jadi hand lettering handal. *maap wik jadi ceritain kamuu*

Jadi keinget cerita saya dulu yang jaman kecil suka banget hal – hal berbau scientist, ikut lomba matematika, ipa, sampe jurusan di SMA juga mulus juga di IPA dan segala kegiatannya. Lalu, ntah apa yang terjadi sekarang, ketika saya malah berada di jurusan sosial pas kuliahan yang notabene jauh banget sama yang saya pelajari waktu dulu. What Happen ?
 
Merasa waktu sia – sia ?
Gak banget! Saya yakin semua yang kita jalani dan kita pilih pasti ada hikmahnya. Mungkin saya harus ngelewatin beberapa fase itu supaya menemukan apa yang saya cari sebenarnya, apa yang bisa saya lakukan sebenarnya. Saya memang suka nulis sejak kecil, seperti nulis diary. Karena waktu dulu juga belum ada internet, blog yang secanggih sekarang. Tapi sedikitpun dan tak pernah terlintas ingin jadi penulis. Bahkan dulu sempat mikir ingin jadi penyanyi. Barangkali karena waktu kecil saya suka banget dikomporin teman – teman buat nyanyi karena ada di klub paduan suara, teater, dan rebana.

Tapi saya bersyukur banget gak kelamaan nemuin apa yang saya suka, dan saya senang berhasil ngambil jurusan kuliah saya saat ini yang “guee banget dah” walaupun orang – orang banyak yang bilang kalau kamu suka sama jurusan kamu tekuni saat ini di perkuliahan dan kamu yakin ga salah jurusan setidaknya IPK kamu itu sempurna 4.0! Lalu saya ? Hampir – hampir deh yaa, tapi belum sampe. Gara – gara omongan ini saya pernah gak pede, “beneran sih kamu meel suka ama jurusan itu ? serius sama yang kamu pilih?”

Kalau flashback, ketika jaman seleksi snmptn, daftar kuliah sana sini. Saya sering banget dapat cemooh. Karena jurusan yang saya ambil ga linier banget sama aktivitas saya waktu SMA yang notabene serius. Terutama aktif di kegiatan ilmiah remaja.
“Yakin kamu meel ? itu jurusan buat orang – orang yang ngomong kedepan loh mel ?”
“Kamu tahu kan jadi wartawan gimana ?”
“Yakin meel, disitu bakal ada ini itu dan bla bla bla”

SAKIT ?
Yups, ada masa nya waktu itu merasa gitu, Karena pertentangan demi pertentangan bukan hanya dari orang terdekat teman – teman tapi juga orang tua. Karena saya anaknya yang benar – benar melenceng. Notabene keluarga rata – rata basicly anak – anak scientist, akademical, terus rata – rata berkutat di medis, tehnik, hal gitu – gitu terkecuali alm ayah saya yang diploma ekonomi di jamannya. Tapi ya ekonomi masih ada matematikanya kan.
Itu lain ceritanya dilemma pasca SMA. Nah sekarang dilemma pasca kampus.
Pertanyaaannya lebih menjubel lagi. Jaman dulu mungkin kita nemuin hanya ada beberapa pilihan untuk kita. Kalau sekarang, kalau mau memilih bekerja ada banyak lanjutannya, mau kerja kayak gimana ?
Kerja yang kantoran kah, kerja yang project oriented kah, atau buka usaha. Bahkan trend abis kuliah nikah dan ambil S2 sudah jadi pilihan banyak orang ketimbang dulu, yang dua pilhan ini jadi second line yang hanya dipikirkan orang – orang tertentu. Kesempatan beasiswa lanjut studi yang kian luas, cerita nikah muda jadi trend untuk menghindari zina dan say no to pacaran karena dunia kini makin tak terkendali. Jadi membuat banyak pilihan bukan ?

Jadi galau anak sekarang lebih mengerikan ya ?
Hmm bisa jadi, karena pressure yang lebih tinggi. Sentuhan perubahan dan globalisasi yang kian cepat membuat kita gak bisa jadi orang yang tertinggal informasi dan peluang. Kompetisi kian berat. Kalau galaunya lama – lama yaa susah juga. Kita hanya jadi manequine di dunia yang fana ini. Duh bahasanya ..
Menurut saya galau adalah sesuatu hal yang “diam ditempat”, Why ?
Orang galau sulit mengambil keputusan, cenderung pada kondisi tak memilih. Kondisi nyaman dan diam. Gak nyaman sih, tapi bingung dengan segala pertimbangan yang ada di kepalanya, terlalu over untuk memikirkan apa yang akan terjadi yang ada di masa depan, sayangnya khawatirnya itu negatif semua. 

Lalu saya ? Yups saya pernah! Lalu salahnya saya pada saat itu adalah, saya hanya memikirkannya sendiri. Saya diam, saya tak berbagi dan bertanya dan saya tak berusaha keluar dari lingkaran “devil” itu, yang bikin recovery nya jadi lama.
Lagi lagi komitmennya ke diri sendiri,
“aku ga bisa nih gini – gini terus harus berubah”
And then ketika hal itu muncul di pikiran kita, kita menjalankan sesuatu dengan let it flow dan berusaha menerima segala kemungkinan yang terjadi di masa yang akan datang. Lalu apa yang akan terjadi
BLAAP!
Allah kasih jawaban ke kita! Yups! Entah itu peluang, entah itu kesempatan, apa itu sebuah hal yang kita saat ini risaukan akan muncul titik terangnya kalau kita memahami. Yaa! Allah tidak tidur. Allah selalu dengar dan tahu apa yang diinginkan hambanya. Makanya ilmu ikhlas itu berat, tapi ketika berhasil menjalaninya, keajaiban demi keajaiban akan datang sebagai bentuk karunia Allah dan hadiah dari Allah kalau hambanya berhasil menjalani ujian yang diberikan. Ujian menerima, ujian berusaha dan berikhtiar.

Kamu sedang galau ?
Kalau kamu masih stagnan sama posisi sekarang dan ga maju – maju saya pastikan kamu dalam fase itu. Normal kah apa aib kah ? Hmm, nikmati prosesnya tapi kalau udah sadar dalam posisi seperti itu harus cepat – cepat berkomitmen untuk berubah. Belajar terus, dan selalu mencari teman – teman yang positif yang bisa dongkrak rasa percaya diri dan melepas rasa khawatir kamu sama hal yang akan terjadi di masa yang akan datang.
Mungkin cara kita menanggapi masa depan berbeda, versi sukses tiap orang berbeda. Kita suka galau karena liat kondisi orang lain yang menurut kita lebih baik, padahal belum tentu. Bisa jadi dia malah tidak nyaman dengan kondisinya saat ini. Jangan banyak menduga – duga dan just focus for yourself!
Kalau kamu belum mendapatkan apa yang kamu cari, ngerasa salah jurusan atau masih dalam mencari dan mencari. Belum tentu masa depan kamu suram karena kamu terlambat menemukan diri kamu ada dimana,
Saya jadi ingat quote ini
Belum tentu orang yang terlebih dahulu maju itu adalah yang paling baik. Terkadang orang yang dulunya berproses menjadi yang lebih baik walau prosesnya lambat akan menemukan sesuatu yang lebih bernilai karena dia menikmati segala prosesnya dan dia mengerti perjuangan untuk menjadi yang terbaik, ketimbang orang yang melewatkan hal itu dan cepat maju” Dream High
– Ini scene dimana Hye Mi sedang curhat kalau merasa tersaingi dari sahabatnya yang progress untuk debut menjadi entertainer lebih cepat ketimbang dia yang harus mulai dari 0 lagi karena karakter buruk yang ia miliki. Guru Kang yang jadi pembinanya saat itu menasehatinya quote keren itu, and then Hye Mi menjadi sukses versi dia sendiri dan terbebas dari karakter lamanya yang egois dan ga peduli akan orang lain.-
Jangan lihat kalau itu qoute dari drama korea (teruntuk dramahaters) *tutup mata
------------------
Semoga curahan ini menginspirasi!
For the next!
Cerita tentang hari melewati pasca kampus

Keep Reading !
yang menulis tidak lebih baik dari yang membaca

4 comments:

  1. Saya sih kuliah pengennya nyari ilmu bukan nyari kerja. Tp orientasi orangtua berbeda, mereka pengen anaknya kerja dijurusan yg saya lakoni, lah saya kan demennya nulis, kadang ekspetasi dan kenyataan ga bisa dipungkiri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, anak - anak sekarang orentasinya memang lebih maju :)
      lebih ingin tantangan lebih dan mendapatkan pengalaman yang lebih

      Delete
  2. Yang penting nikmatin aja mbak, do what you love, love what you do, Gitu sih kata orang bule :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha sip dah emang okeh mba yelli :D

      Delete

Silahkan saran dan kritiknya ...

Powered by Blogger.