Menemukan Dirimu melalui Sosial Media

by - Oktober 16, 2021

 

 
Media Sosial sebuah kekuatan baru masa kini.  Sejarah yang bermula pada akhir abad-19. Pada awalnya ditemukannya telegraf yang dikirimkan oleh Samuel Morse 1844.

Banyak dari kita mungkin berpikir, telegraf tidak bisa masuk golong media sosial karena tidak bersifat online. Padahal jika ditinjau kembali. Semuanya mulai berawal dari sana. Informasi ini dikutip melalui Indozone.

Lalu kemudian internet mengubah pola komunikasi kita dan terciptanya sebuah platform. Alih - alih kita bercengkerama dengan cerita sejarah dari media sosial

Saya lebih ingin sharing mengenai bagaimana pada akhirnya media sosial benar - benar mengubah hidup kita. Bukan mengubah hidup seorang individu, tapi juga dunia.

Banyak akhirnya keputusan - keputusan besar dan juga perubahan - perubahan besar terjadi di dunia.

Kemunculan Facebook, kemudian disusul berbagai platform baru yang mulai berkembang dengan beragam rupa dan bentuk. Saya yang berada dalam peralihan generasi tradisional ke generasi digital merasakan banyak hal yang berubah. Baik itu dampak positif dan negatifnya.

Media Sosial, Penemuan Pengubah Segalanya.


Dahulu, media sosial diawali dengan perbincangan - perbincangan antar pertemanan terdekat, menjaring orang - orang yang dikenal saja untuk bercengkerama dan terkoneksi. Hingga akhirnya beralih menjadi bagian memulai pertemanan itu sendiri.

Bahkan tak jarang kita tak mengenalnya di dunia nyata tapi sering berkomunikasi di dunia maya. Lalu perubahan kini terjadi, media sosial bukan hanya sarana berkomunikasi saja. Tapi sarana untuk berdagang, mempengaruhi, marketing, dan kemudian bagian komunikasi politik dan juga lintas budaya.

Penetrasi budaya tak terelakkan, salah satunya K-WAVE yang saat ini mendominasi dunia dengan penetrasi budaya - budaya pop anak muda, berlanjut pada trend fashion, perdagangan, kuliner dan masih banyak lagi.

Seperti terhipnotis dengan suasana. Bahkan fakta - fakta soal ketergantungan kita sebagai makhluk bumi yang terkoneksi digitalisasi, menghabiskan 7-8 jam sehari untuk berinternet salah satu yang terbesar adalah media sosial.

Pasar Online mengubah pengalaman berbelanja semudah itu di gawai kita. Kita juga bisa berbagai pikiran dengan ulasan terhadap produk tertentu yang mempengaruhi calon pembeli lainnya. Ini bagian dari Media Sosial Dari Dekat

Media sosial bahkan kini dalam hidup kita sebagian besar telah menjadi teman yang melebihi orang tua bahkan teman dunia nyata kita sendiri.

Kita terhanyut dalam pemikirannya, perasaan yang terbentuk, dan paham - paham yang membebaskan kita berpikir di luar yang kita jangkau sebelumnya.

Saya pernah berceletuk kepada teman saya,

"Dahulu mungkin kita tak akan mengetahui persoalan hidup dan dunia kalau tidak dari orangtua kita, atau perbincangan teman kita. Kita dinasehati untuk memilih teman yang baik, pembelajaran yang baik. Tapi kini, kita dibalik jendela dan terkurung di kamar dengan internet dan media sosial kita bisa menjadi sosok apapun bahkan memiliki pemikiran berbeda dengan orangtua bahkan teman lingkaran kita"


Begitu kuatnya pengaruh media sosial yang menemani dalam hidup kita. Tak jarang muncul istilah baru yaitu FOMO (Fear of Missing Out) Sebuah gejala kecemasan akan ketinggalan informasi sesuatu, kesepian, dan juga depresi. Pengaruh ini berakibat pada efek kesehatan mental karena senantiasa menggunakan media sosial.

Jadi apa hubungannya dengan judul saya diatas?


Ada hal yang ingin saya sampaikan mengenai menemukan diri melalui media sosial. Saya hanya ingin mengingatkan diri saya juga teman - teman membaca. Bahwa media sosial adalah, bukan sesuatu yang harus kita jadikan panutan, kita ikuti sebuah apa yang muncul dan hadir, kita jalani semua yang direkomendasikan, atau kita jadikan sesuatu yang kita idolakan.

Pembatasan status diri kita dengan media sosial harus benar - benar kita tanamkan dalam diri kita agar kita bisa mengontrol diri kita, mental kita, dan juga pengaruh yang dirancang oleh media sosial hingga kita menjadi "candu" hingga kita terhanyut dan bahkan kehilangan diri.

Ingat bukan berbagai penyuluhan, webinar, dan juga yang mengatakan bahwa media sosial seperti hal yang dilematis saat ini? Kembali lagi kita yang mengontrol diri kita, mana yang harus kita berikan dukungan mana yang bukan bagian dari diri kita. Kontrol itu ada di tangan kita.

Persoalan menemukan diri melalui media sosial, media sosial bila kita mampu menggunakannya dengan baik, kita bisa menjadikan alat yang powerful untuk menemukan potensi diri, menyebarkan hal bermanfaat, dan berbuat kebaikan massal.

Jadi, sudahkah menemukan dirimu saat ini?



You May Also Like

12 comments

  1. Terutama main Instagram ini nih bagaikan candu (tapi yang positif lho ya). Menyenangkan memang bermain media sosial itu, apalagi diperuntukkan pekerjaan online. Biasanya ada target pencapaian kaaan. Yang penting kita bisa membagi waktu dan mengontrolnya. Jangan sampai dunia nyata terabaikan begitu saja :D

    BalasHapus
  2. Iya, saya merasakan dampak burukndari sosial media. Terkadang merasa inferior dengan yang ditampilkan orang lain di medsos. Sekarang sejak fokus pakai akun buat nulis aja dan jarang kepo sama cerita kehidupan orangnlain. Saya merasa lebih bahagia. Makasih ya mba, pencerahannya tetap semangat menulis ❤

    BalasHapus
  3. Memang paling efektif menemukan diri kita melalui pergaulan sosial di dunia nyata. Senyata-nyatanya kenyataan yang kita hadapi klo itu ya. Media sosial tadinya kan muncul untuk terkoneksi dengan teman lama yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Lalu berkembang menjadi pertemanan dunia maya seperti saat ini. Dari diri kita lah yang sebaiknya membatasi mau digunakan untuk apa media sosial yang kita punya.

    BalasHapus
  4. Kalau main medsos, kayaknya saya lebih pakai untuk hiburan sama cari info. Kalau urusan mengunggah konten, udah sering banyak malasnya. Kecuali urusannya sama kerjaan.

    BalasHapus
  5. Mungkin di usiaku saat ini sudah mampu menyikapi pengaruh media sosial. Yang aku khawatirkan dua anak remajaku, SMA dan SMP...mereka sudah bermedsos juga meski kuawasi tapi aku toh enggak 24 jam mantengin kegiatannya. Ini PR banget bagiku sebagai orangtua untuk mengarahkan mereka agar hanya hal positif yang diambil dari sana

    BalasHapus
  6. Sosial media memang salah satu cara paling mudah untuk bertemu orang yang kita cari. Aku sendiri banyak menemukan teman masa kecil dan sekolah dulu

    BalasHapus
  7. Media sosial ini memang seperti pisau. Bisa bikin potensi dan bisnis kita melejit, bisa bikin depresi. Bisa kita gunakan untuk kebaikan, bisa untuk kejahatan.
    Aku lebih banyak pakai medsos untuk kerja sih. Udah ngurangin skrol-skrol timeline, terutama jika kondisi psikis lagi nggak baik.

    BalasHapus
  8. berkat media sosial aku bisa punya temen online, dan kami sudah beberapa kali ketemu, walaupun beda pulau.. terlepas dari banyaknya dampak negatif yg ditimbulkan, dengan media sosial aku justru tahu banyak hal.

    BalasHapus
  9. Mengaitkan isu kesehatan mental dengan media sosial jadi topik bahasan yang sungguh menarik beberapa waktu belakangan. Dan aku merasa banyak yang struggling dengan hal itu, termasuk diriku sendiri. Tapi aku penasaran, ada kah cara untuk mengatasi FOMO (yang ternyata juga berkontribusi terhadap kesehatan mental kita), Mbak?

    BalasHapus
  10. Biar kita enggak tergolong kaung FOMO, lalu persona kayak apa yang kita tampilkan di medsos, dan sebenarnya persona itu kadang juga mempengaruhi diri kita dan mental kita. That's why setuju, penting banget untuk membatasi diri kita tercebur ke medsos dengan ketagihan.

    BalasHapus
  11. Sosial media emang bisa bikin candu. Tapi, sejauh ini justru aku yang termasuk banyak dapat hal positif sejak main sosial media. Dan memang harus ada juga nih penyuluhan mengenai penggunaan media sosial untuk anak sekolah. Biar banyak yang paham kalau sosmed bisa jadi hal baik dengan batasan-batasan yang mengasyikkan

    BalasHapus
  12. Apakah akun media sosial bisa menjadi cerminan kita? Mengingat apa yang sering kita tampilkan di medsos yang baik-baik saja bahka demi pencitraan yang bagus di medsos kita bisa menjadi sosok yang bukan diri kita sebenarnya. So far saya setuju saja sih kalau dikatakan media sosial tidak seharusnya kita jadikan panutan, tetap perlu ada batas. Toh, medsos akan bermanfaat jika kita pergunakan dengan sebaik mungkin.

    BalasHapus

What's your opinion about this article ?